Bawa laptop tapi baterai habis dan tidak ada stop kontak sumber daya listrik? Alamat laptop tak bisa lagi dioperasikan sampai diketemukan “colokan listrik”. Tapi hal ini tidak masalah lagi bagi pemilik MacBook, laptop buatan Apple itu.

Ada perusahaan yang bernama QuickerTek yang membuat charger dengan sumber energi dari matahari. Jadi produk yang disebut Apple Juicz ini memang terdiri atas solar cell. Uniknya, solar cell yang bila dibentangkan berukuran 60×42 inci bisa dilipat sehingga mudah ditenteng. Menurut QuikerTek, solar cell terbuat dari film yang tipis sehingga tidak mudah pecah dan lebih fleksibel.

Apple Juicz dapat dipakai untuk mengisi baterai MacBook, MacBook Pro, atau MacBook Air. Ada tiga jenis produk Apple Juicz, yaitu yang menghasilkan daya 18 watt yang dapat mengisi baterai MacBook Air selama 14 jam; 27 watt, yang mengisi MacBook Air selama 8 jam; dan 55 watt yang mengisi MacBook Air selama lima jam. Harganya sesuai dengan kemampuannya, yaitu masing-masing US$500, US$600, dan US$1.000.

Jadi kalau Anda punya MacBook, Anda bebas membawanya ke mana pun. Anda bisa membawanya ketika camping atau ke pantai yang terpencil sekalipun.

Masih ingat kalkulator yang menggunakan solar cell untuk mendayainya? Dulu kalkulator ini sempat populer. Kalkulator ini tidak pakai baterai, cukup cahaya lampu dari luar sudah bisa untuk mensuplai catu daya listrik yang diperlukannya.

Dengan cara yang sama, Apple akan membubuhkan solar cell pada peranti portabelnya. Paten untuk inovasi ini sudah didaftarkannya. Jadi nanti iPod, iPhone, dan peranti buatannya yang lain, tidak lagi tergantung pada catu daya listrik untuk mengisi baterainya.

Yang menarik adalah penempatan solar cell itu. Kalau ditempatkan di ruangan “kosong” yang masih tersedia di sisi layar atau di sisi tombol-tombol peranti, luasan solar cell kurang memadai. Tapi Apple tak kurang akal. Solar cell itu bakal “ditumpuk” dengan layar sentuhnya! Kalau begitu, luasan solar cell akan memadahi untuk menghasilkan arus listrik yang dapat menghidupi peranti itu.

Kok bisa ya? Kita lihat saja nanti. Yang jelas inovasi ini perlu mendapat penghargaan karena sangat ramah lingkungan.

Seperti biasa, setiap pameran besar, Bill Gates - pendiri Microsoft, selalu menyampaikan keynote-nya. Pandangan-pandangannya di dalam keynote biasanya sangat ditunggu-tunggu oleh peserta pameran maupun para pengamat. Maklum, Microsoft adalah salah satu trend setter teknologi informasi.
Pada Consumer Electronics Show awal Januari ini, keynote Gates sangat mengejutkan. Dia menyatakan akan “pensiun” dari Microsoft pertengahan tahun ini dan akan lebih berkonsentrasi pada yayasan amal yang ia dirikan bersama istrinya, Melinda Gates Foundation.
Kalau uang sudah melimpah, apalagi yang dicari? Barangkali dia merasakan hal yang berbeda ketika memberikan bantuan-bantuan kepada mereka yang membutuhkan. Jadi dia memutuskan untuk lebih banyak beramal di sisa usianya. Mungkin saja……

Tekad untuk menggunakan pot tanah liat ternyata bukan tanpa hambatan. Pot  jenis ini lebih sulit dicari. Kebanyakan penjual pot di kawasan penjual tanaman hanya menyediakan yang terbuat dari plastik.

Kalaupun ada, pot tanah liat yang disediakan umumnya untuk tanaman anggrek. Pot ini tidak hanya berlubang di bagian dasarnya, tetapi juga ada lubang-lubang di bagian sisinya.

Sementara ini saya beli pot yang banyak lubangnya. Kini saya lagi cari pot tanah liat biasa yang dulu banyak tersedia.

Hobi menanam masih menyisakan rasa yang mengganjal. Pasalnya saya masih menggunakan pot plastik, walaupun memang pot-pot yang saya gunakan itu sisa-sisa dari yang lama. Kini setelah menyadari plastik yang tidak mudah terurai di alam, yang akan menjandi sampah “abadi”, terpikir untuk menggunakan pot tanah. Tentunya pot tanah ini akan lebih mudah terurai nantinya bila dibuang sebagai sampah daripada plastik.

Selain itu, yang sekarang masih kepikiran juga adalah penggunaan pakis sebagai bagian dari media tanam. Konon, dengan maraknya bisnis tanaman saat ini, banyak orang  mencari tanaman pakis ke hutan-hutan. Ini berarti juga merusak lingkungan.  Untungnya ada pelaku-pelaku bisnis tanaman yang mulai sadar dan katanya ada media alternatif pengganti pakis. Tapi sampai saat ini saya belum menemukan.

Sebenarnya ada alternatif pakis yang sangat ramah lingkungan, yaitu sekam. Tapi saya pengalaman menggunakan sekam dan tidak ingin menggunakan lagi. Pasalnya ketika sekam itu membusuk memunculkan mikroorganisme, semaca ulat-ulat kecil. Selain itu ada sekam yang tumbuh atau bertunas dan itu nggak satu dua tapi lumayan.

Ada yang menggunakan sekam yang sudah dibakar, kelihatannya lebih bagus. Tapi sekam bakar tentu tidak ramah lingkungan, lha ketika sekam dibakar kan melepaskan gas karbondioksida ke udara…..

Sampai kini masih berharap media alternatif tadi. Sementara ini saya akan menghabiskan pakis yang saya beli sebelumnya, maklum sebelumnya nggak ngeh kalau penggunaan pakis itu berarti ikut berkontribusi pada perusakan hutan.

Seperti artikel yang disajikan Koran Tempo edisi 27 Desember 2007 pada rubrik Ilmu&Teknologi, obat tetes mata dapat menyebabkan kebutaan. Oleh sebab itu disarankan oleh Profesor Suhardjo (Ketua Persatuan Dokter Mata Indonesia Daerah Istimewa Yogyakarta) agar hati-hati menggunakan obat tetes mata.

Menurut Prof Suhardjo saat ini masih banyak ditemukan kasus kebutaan karena tetes mata. Obat tetes mata yang mengandung steroid memang ampuh untuk atasi alergi dan iritasi mata. Namun penggunaan tetes mata yang mengandung steroid secara berlebihan (misalnya selama dua bulan berturu-turut) dapat menyebabkan glukoma atau peningkatan tekanan dalam bola mata yang mengakibatkan rusaknya saraf penglihatan.

Alergi mata sering terjadi pada anak-anak. Menurut Prof Suhardjo biasanya alergi ini akan hilang dengan sendirinya ketika telah dewasa. Sarannya, janganlah membeli dan menggunakan tetes mata secara berlebihan, apalagi tanpa resep dokter.

Biasanya saya cuek saja melihat biji-biji berwarna merah berjatuhan di bawah ketiga pohon palm di depan rumah. Padahal sudah sejak lama ketiga pohon yang tingginya sudah melebihi kabel telepon itu menebarkan biji-biji ke tanah.

Beberapa hari lalu saya membuang sampah ke tempatnya dan melewati pohon-pohon itu. Tanpa sengaja melihat biji yang bertunas. Dan ternyata ada dua biji lagi yang sudah menyembulkan daun di dekat ditemukannya tunas tadi. Total ada tiga biji yang bertunas, dua di antaranya malahan sudah setinggi 15 cm, sedang yang satunya baru setinggi 4 cm dan daunnya masih kuncup belum membuka.

Bentuk tunas itu cukup bagus, mirip tunas kelapa lambang pramuka. Bedanya, kalau tunas palm ini hanya sebesar ujung ibu jari. Melihat tunas itu terdorong hati saya untuk memindahkan dan menanamnya. Ternyata akarnya sudah lumayan jauh ke dalam, harus digali dulu agar tunas itu dapat diangkat. Ketiga tunas itu akhirnya saya pindahkan ke pot.

Malam harinya saya terpikir untuk mengumpulkan biji-biji yang masih bertebaran di bawah pohon itu dan menyemainya. Keesokan harinya saya berniat mengumpulkan biji-biji itu. Tapi ternyata di sisi lain yang belum terlihat sebelumnya ada lumayan banyak yang sudah bertunas. Hitung punya hitung ada 10 tunas.

Kesepuluh tunas akhirnya saya tanam di pot kecil. Jumlah pot bekas yang berhasil saya kumpulkan dari belakang rumah pas ada sepuluh juga. Menariknya lagi, sisa tanah kompos yang saya beli beberapa minggu sebelumnya juga pas memenuhi kesepuluh pot itu.

Apakah kebetulan-kebetulan itu pertanda baik? Semoga saja demikian. Ketika saya berniat untuk memindahkan tunas-tunas itu ke dalam pot dalam hati berharap setidaknya tunas-tunas ini kelak akan bermanfaat, setidaknya saya sudah ikutan untuk menanam pohon dalam rangka menyelamatkan bumi. Tapi ya tidak seidealis itu juga, terbesit juga dalam hati, siapa tahu kelak laku dijual! Ha ha.

(Cara ini diambil dari Kebonkembang)

Sediakan pula media tanam berupa campuran sekam (2), sekam bakar (1), akar pakis (1), pupuk kandang (1), dan tanah merah (1).

Media tanam philodendron harus porus namun sedikit padat. Makanya ada tanah merah, ungkap Ade, pemain tanaman hias di Sawangan, Depok.
Menurut pria bernama lengkap Hadi Sumarna ini, tanah merah berfungsi sebagai tempat mencengkram akar.

Bila media tanam telah tersedia, olesi pisau atau cutter dengan alkohol.Lalu pilih bagian batang philodendron. Usahakan akar yang terpotong hanya sedikit, ungkap Ade dari Dusun Kunjani Nurseri. Kemudian olesi bagian batang atas yang terpotong dengan fungisida. Langkah ini untuk menghindari tumbuhnya jamur dari bekas potongan. Lalu tanam batang atas yang telah diolesi fungisida itu dalam media tanam. Kemudian letakkan di bawah naungan dengan daya tangkal sinar matahari sekitar 60-65%.

Sementara itu, jangan acuhkan bagian bawah batang yang tersisa. Olesi juga bagian batang yang terpotong itu dengan fungisida. Bila semuanya lancar, dalam 2 minggu bakal keluar helaian daun haru. Nah, kini Anda telah memiliki 2 buah philodendron.

2. STEK BONGGOL

Siapkan philo yang sudah dewasa. Artinya, bagian bonggol bawahnya sudah panjang. Lalu potong di setiap mata tunas sepanjang 6-7 cm dan rendam dalam larutan fungisida selama 20 menit dan tiriskan. Setelah itu masing-masing potongan bonggol ditanam dalam pot kecil yang telah berisi media. Simpan di bawah naungan. Anda bisa langsung menyiramnya. Dalam beberapa minggu bakal keluar kuncup philodendron.

3. PEMISAHAN ANAKAN

Jika Anda beruntung, terkadang ada philodendron yang tumbuhnya berumpun. Anda bisa mcmisahkan anakannya. Caranya mudah kok! Pertama biarkan anakan itu tumbuh hingga daunnya berjumlah 5 helai. Ini artinya, anakan itu telah memiliki perakaran sendiri alias tak tergantung pasokan makanan dari si induk.
Potong bagian pangkal batangnya dengan menggunakan pisau atau cutter tajam. Usahakan akar-akar muda tak ikut lerpotong. Kemudian oleskan fungsida pada batang anak yang terluka karena potongan. Tanam di media yang tersedia. Simpan di bawah naungan.

Flona Edisi 47/III Januari 2007

Bagi veteran Windows, mensetup modem dan dialer di Linux bukan perkara mudah. Bolehlah tampilan Linux sudah mirip dengan Windows, tapi kalau sudah masuk ke ‘wilayah’ setup peranti seperti modem, printer, dan lain-lain, tidaklah semudah di Windows.

Saya berhasil setup modem dan dialer tadi malam, itupun setelah baca manual berkali-kali dan mempraktekannya beberapa kali. Pertama saya coba pakai menu untuk mensetup dialer, yaitu System*Administration*Network lalu pilih modem connection. Sampai sekarang pun saya nggak berhasil membuat dialernya.

Setelah pakai cara kedua saya berhasil. Padahal cara ini menggunakan command line mirip seperti jamannya DOS dulu. Perintah harus diketik, bukan pakai sistem menu dengan mouse. Singkatnya setelah mengikuti langkah pengetikan perintah-perintah, modem berhasil terdeteksi dan dial ke Telkomnet pun berhasil. Tentu mencobai cara ini tidak sekali langsung berhasil Sebab, ternyata di manual penjelasan singkat-singkat saja.

Setelah membaca dan mengikuti seminar Quantum Ikhlas, bahasan yang paling menarik bagi saya adalah yang berkaitan dengan teori fisika kuantum. Teori itu menyatakan bahwa sebagian besar materi semua benda itu terdiri atas ruang kosong!

Jadi kursi, meja, kertas, tas kresek, beton, besi, emas, berlian, dan semua benda di alam semesta ini, sebagian besar terdiri atas kekosongan. Benda itu pada hakikatnya hanyalah vibrasi-vibrasi energi! Jadi benda yang bisa kita raba itu hanyalah sebuah kesan kita saja! Perasaan kita saja bahwa benda itu terasa padat dan “nyata” ada. Subkhanallah, Allah Maha Suci.

Jadi ngapain mengejar dunia sampai stres? Yang kita kejar siang malam itu tidak ada, bayangan saja! Inikah yang disebut dengan kesemuan dan kefanaan dunia?

Jika benar bahwa semua benda ini hanyalah vibrasi energi, maka tenung akhirnya nanti dapat dijelaskan secara ilmiah. Perpindahan manusia secara sekejap dari satu tempat ke tempat lain, seperti certita-cerita orang sakti jaman dahulu, juga bukanlah mistis seperti yang kita kira selama ini. Fantasi transfer manusia dari satu tempat di pesawat ruang angkasa ke tempat lain dalam film Startrek tidaklah mustahil untuk diwujudkan.

Fisika kuantum saat ini memang belum bisa menjelaskan semua hal itu. Mungkin pada suatu hari nanti, atau tak pernah sama sekali. Wallahualam.

Next Page »