- Catatan TIK


Beberapa waktu lalu banyak yang mengeluhkan biaya komunikasi melalui handphone (ponsel) di Indonesia masih mahal. Untungnya akhir-akhir ini, tarif bicara dan SMS sudah banyak turun. Ini berkah dari persaingan antaroperator yang demikian ketat.

Kalaupun kita masih mengeluhkan biaya komunikasi itu mahal, kita tak sendirian. Di negara yang super maju, yaitu Amerika Serikat, warganya masih mengeluhkan biaya komunikasi lewat ponsel yang masih mahal.

Tidak itu saja, menurut kolumnis Computer World, Mike Elgan, para operator di Paman Sam itu masih curang. Dia merinci 10 kecurangan operator. Salah satunya ya soal tarif. Menyitir hasil jajak lembaga survei, Elgan mengemukakan bahwa Amerika Serikat tergolong pada tiga negara (termasuk Kanada dan Spanyol) yang paling mahal tarif komunikasi wireless-nya. Warga Amerika rata-rata harus membayar US$635,85 per tahun untuk operator ponsel (bandingkan dengan warga Belanda yang cuma bayar US131,44 per tahun).

Nah, berapa rupiah per tahun tagihan ponsel Anda?

Bertahun-tahun saya menggunakan Palm, yaitu sejak PDA klasik dengan layar yang masih monokrom. Kemudian saya ganti dengan Palm C yang layarnya sudah berwarna, ada keyboard QWERTY, ada WiFi pula. Dan terakhir saya ganti dengan Palm 650 yang sudah menjadi smartphone, bukan lagi PDA saja. Sejak hampir empat tahun yang lalu, saya tetap setia dengan model 650 ini walaupun sudah keluar model baru berkali-kali.

 

PalmPreSekarang Palm mengumumkan model baru Palm Pre yang menggunakan sistem operasi baru WebOS. Sistem operasi baru ini tidak lagi kompatibel dengan Palm yang lama. Seperti namanya, WebOS memang “berbau-bau” Web. Pembuat aplikasi akan menggunakan bahasa Web standar seperti CSS, XHTML, dan JavaScript. Dengan demikian, menurut pihak Palm, akan lebih banyak orang yang dapat membuat program aplikasi untuk peranti baru tersebut. Kan banyak sudah orang yang menguasai bahasa “internasional” Web itu, begitu alasannya.

 

PalmPre dirancang dengan fungsi yang mirip iPhone, yaitu sebagai peranti kerja dan hiburan. Salah satu kelebihan utama PalmPre adalah Synergy. Synergy mentautkan informasi kontak yang tersebar di berbagai aplikasi. Contohnya, kontak yang disimpan di Outlook, account di Google dan Facebook, dapat ditampilkan dalam satu tampilan. Synergy akan mengenalinya sebagai satu orang. Memperbarui (update) kontak pada WebOs secara otomatis akan memperbarui semua informasi kontak dan account di PC maupun di Web tadi.

 

Palm Pre memiliki layar 3,1 inci, 320×480-pixel dengan keyboard QERTY model sliding, mendukung koneksi HSDPA. Selain itu ada fasilitas Wi-Fi, GPS, dan Bluetooth (termasuk Bluetooth stereo). Kapasitas penyimpanannya 8GB dengan bobot 135g.

 

Di Amerika Palm Pre akan diluncurkan semester pertama tahun ini. Di Eropa menyusul setelah itu dan mungkin juga langsung ke Asia.

 

Tampaknya menarik. Ganti Palm jadul saya dengan yang ini gak ya?

Kalau Anda lagi cari netbook, coba pertimbangkan Asus Eee PC 1000H. Harga Asus Eee PC 1000H kini sudah turun drastis.

Pada awal peluncuran, beberapa bulan lalu, harganya US$560. Namun saat ini sudah turun harga menjadi US$459. Walaupun dari sisi “Rp” tidak beda jauh – karena waktu itu kurs dollar masih Rp 9.500, dilihat dari spesifikasi, maka Eee PC 1000H menjadi pilihan mini-laptop yang sangat menarik saat ini. Coba saja bandingkan dengan Acer Aspire One A150 yang harganya US$497, yang layarnya cuma 8,9″. Prosesor (Atom N270), kapasitas harddisk (160GB), dan memori (1GB) sama dengan Eee PC 1000H. Bahkan 1000H berlayar 10″ dan baterai 6-sel.

Misalnya saja Anda membutuhkan mini-laptop atau netbook yang berfasilitas modem 3G, 1000H masih menunjukkan keunggulan di harga. Harga modem 3G sekitar US$100, maka kalau 1000H ditambah modem (eksternal, tipe USB), harga menjadi US$559. Ini masih lebih murah dibandingkan dengan Acer Aspire One A150 3G yang US$597, walaupun fasilitas 3G-nya sudah built-in.

Sungguh menyenangkan kalau punya notebook dengan umur baterai 40 jam. Kalau kita bekerja dengan notebook itu sehari 8 jam, berarti lima hari kerja baru mengisi (charge) baterai. Sungguh leluasa menenteng notebook ini ke manapun.

(more…)

Pada suatu pesta Anda kepincut dengan salah seorang gadis. Anda ingin berkenalan. Tapi sebelum menyapanya, Anda ingin tahu, siapa sih dia? Diam-diam Anda mendekatinya, dan memotret “logo” di blusnya dengan ponsel Anda. Kebetulan logo itu tertempel di punggungnya.

(more…)

Bawa laptop tapi baterai habis dan tidak ada stop kontak sumber daya listrik? Alamat laptop tak bisa lagi dioperasikan sampai diketemukan “colokan listrik”. Tapi hal ini tidak masalah lagi bagi pemilik MacBook, laptop buatan Apple itu.

Ada perusahaan yang bernama QuickerTek yang membuat charger dengan sumber energi dari matahari. Jadi produk yang disebut Apple Juicz ini memang terdiri atas solar cell. Uniknya, solar cell yang bila dibentangkan berukuran 60×42 inci bisa dilipat sehingga mudah ditenteng. Menurut QuikerTek, solar cell terbuat dari film yang tipis sehingga tidak mudah pecah dan lebih fleksibel.

Apple Juicz dapat dipakai untuk mengisi baterai MacBook, MacBook Pro, atau MacBook Air. Ada tiga jenis produk Apple Juicz, yaitu yang menghasilkan daya 18 watt yang dapat mengisi baterai MacBook Air selama 14 jam; 27 watt, yang mengisi MacBook Air selama 8 jam; dan 55 watt yang mengisi MacBook Air selama lima jam. Harganya sesuai dengan kemampuannya, yaitu masing-masing US$500, US$600, dan US$1.000.

Jadi kalau Anda punya MacBook, Anda bebas membawanya ke mana pun. Anda bisa membawanya ketika camping atau ke pantai yang terpencil sekalipun.

Masih ingat kalkulator yang menggunakan solar cell untuk mendayainya? Dulu kalkulator ini sempat populer. Kalkulator ini tidak pakai baterai, cukup cahaya lampu dari luar sudah bisa untuk mensuplai catu daya listrik yang diperlukannya.

Dengan cara yang sama, Apple akan membubuhkan solar cell pada peranti portabelnya. Paten untuk inovasi ini sudah didaftarkannya. Jadi nanti iPod, iPhone, dan peranti buatannya yang lain, tidak lagi tergantung pada catu daya listrik untuk mengisi baterainya.

Yang menarik adalah penempatan solar cell itu. Kalau ditempatkan di ruangan “kosong” yang masih tersedia di sisi layar atau di sisi tombol-tombol peranti, luasan solar cell kurang memadai. Tapi Apple tak kurang akal. Solar cell itu bakal “ditumpuk” dengan layar sentuhnya! Kalau begitu, luasan solar cell akan memadahi untuk menghasilkan arus listrik yang dapat menghidupi peranti itu.

Kok bisa ya? Kita lihat saja nanti. Yang jelas inovasi ini perlu mendapat penghargaan karena sangat ramah lingkungan.