renungan


Seperti biasa, setiap pameran besar, Bill Gates – pendiri Microsoft, selalu menyampaikan keynote-nya. Pandangan-pandangannya di dalam keynote biasanya sangat ditunggu-tunggu oleh peserta pameran maupun para pengamat. Maklum, Microsoft adalah salah satu trend setter teknologi informasi.
Pada Consumer Electronics Show awal Januari ini, keynote Gates sangat mengejutkan. Dia menyatakan akan “pensiun” dari Microsoft pertengahan tahun ini dan akan lebih berkonsentrasi pada yayasan amal yang ia dirikan bersama istrinya, Melinda Gates Foundation.
Kalau uang sudah melimpah, apalagi yang dicari? Barangkali dia merasakan hal yang berbeda ketika memberikan bantuan-bantuan kepada mereka yang membutuhkan. Jadi dia memutuskan untuk lebih banyak beramal di sisa usianya. Mungkin saja……

Setelah membaca dan mengikuti seminar Quantum Ikhlas, bahasan yang paling menarik bagi saya adalah yang berkaitan dengan teori fisika kuantum. Teori itu menyatakan bahwa sebagian besar materi semua benda itu terdiri atas ruang kosong!

Jadi kursi, meja, kertas, tas kresek, beton, besi, emas, berlian, dan semua benda di alam semesta ini, sebagian besar terdiri atas kekosongan. Benda itu pada hakikatnya hanyalah vibrasi-vibrasi energi! Jadi benda yang bisa kita raba itu hanyalah sebuah kesan kita saja! Perasaan kita saja bahwa benda itu terasa padat dan “nyata” ada. Subkhanallah, Allah Maha Suci.

Jadi ngapain mengejar dunia sampai stres? Yang kita kejar siang malam itu tidak ada, bayangan saja! Inikah yang disebut dengan kesemuan dan kefanaan dunia?

Jika benar bahwa semua benda ini hanyalah vibrasi energi, maka tenung akhirnya nanti dapat dijelaskan secara ilmiah. Perpindahan manusia secara sekejap dari satu tempat ke tempat lain, seperti certita-cerita orang sakti jaman dahulu, juga bukanlah mistis seperti yang kita kira selama ini. Fantasi transfer manusia dari satu tempat di pesawat ruang angkasa ke tempat lain dalam film Startrek tidaklah mustahil untuk diwujudkan.

Fisika kuantum saat ini memang belum bisa menjelaskan semua hal itu. Mungkin pada suatu hari nanti, atau tak pernah sama sekali. Wallahualam.

Hari ini saya mengijinkan permintaan anak saya untuk mengikuti bimbingan belajar (bimbel). Tadinya saya kurang sreg dengan bimbel. Pertama, sudah belajar di sekolah kok masih harus belajar lagi materi yang sama di luar jam sekolah. Kedua, kapan waktu mainnya. Di luar jam sekolah sekarang sudah ikut Sempoa dan kursus Inggris.

Ketiga, bimbel itu yang saya tahu belajar soal-soal, alias belajar jalan pintas. Padahal belajar yang menarik itu yang mengutamakan proses. Bagaimana seorang Newton dapat menghasilkan rumus gerak yang sampai sekarang masih dipakai itu. Pelajaran Fisika misalnya akan menjadi menarik bila disampaikan dengan menceritakan fenomena alamnya, misalnya mengapa benda harus jatuh ke bawah, mengapa kalau kita melempar uang ke atas di atas angkot yang sedang jalan jatuhnya ke tangan lagi, dst. Itu akan jauh lebih menarik mengikutinya ketimbang disodorkan misalnya, ini lho hukum Newton, F=m*a (hafalkan ya anak-anak!).

Saya selalu menekankan pada sulung saya itu bahwa ranking tidak penting. Saya tidak mewajibkan dia mengejar ranking dengan belajar sampai ‘babak-belur’. Saya selalu menekankan, belajarlah dengan senang hati. Yang penting juga ada usaha belajar, nanti hasilnya kita syukuri saja. Saya coba untuk mengajarkan cara menghadapi hidup ini seperti itu.

“Habis teman-teman ikut bimbel. Bagas takut nanti tidak lulus ujian, tidak bisa masuk SMP 1 atau SMP 2,” keluh anak sulung saya itu yang tahun depan masuk SMP.

 Saya jadi kepikiran. Saya mungkin lupa mengajarkan tentang persaingan. Saya takut kalau mengajarkan soal persaingan secara salah, menjadikan anak berpikiran sempit. Falsafah “win-win” yang diajarkan Steven Covey itu sia-sia. Mentalnya jadi kalah-menang. “Saya harus menang, kalau tidak maka akan kalah.”

Akhirnya, hari ini saya turuti dulu untuk ikut bimbel. Nantilah sambil jalan diikuti. Semoga saya dapat membimbingnya terus ke arah yang benar.

Kenikmatan akan selalu menyertai bila selalu menerima apa yang telah kita dapat dari usaha maksimal dan tawakal. Tuhan maha tahu apa yang terbaik bagi kita.

Zidane, engkau juga manusia. Prestasimu, sportivitasmu, inspirasimu, tidaklah sirna oleh kejadian tadi pagi. Penggemarmu masih menghargaimu sebagai manusia yang utuh.

Rupanya memang susah membasmi kkn di negeri ini. Mental manipulasi, korupsi, cari jalan pintas, sudah mendarah daging.

Coba saja lihat, kenapa sekitar pasar Palmerah beberapa hari lalu kelihatan bersih. Ada pot-pot besar berisi tanaman di sisi jalan Palmerah Barat. Beberapa pedagang yang punya warung di trotoar tampaknya diusir. Memang pemandangan jadi bersih dan lebih nyaman.

Namun hari ini, depan pasar sampai pinggiran jalan Palbar itu kembali seperti semula. Para pedagang menempati kaplingnya lagi.

Selidik punya selidik, beberapa hari lalu itu ternyata sedang ada penilaian kebersihan kota. Nah, jadi bisa ditebak, hasil penilaian bias. Sebab, nilai itu tidak mencerminkan kondisi sebenarnya, tapi hasil “pembersihan sesaat” (baca: manipulasi).

Itulah mental bangsa indonesiah…… Yang bisa direkayasa, direkayasa sajah… Yang bisa ditempuh dengan mudah dan cepat, walaupun pakai cara “bengkok”, lakukan saja. Ngapain yang mudah dijadikan sulit?

Tapi untungnya, masih ada saja yang berpikiran waras. Dan yang menggembirakan, ini dipertotonkan oleh siswa sekolah SMA kita.

Ceritanya, beberapa siswa yang tidak lulus ujian nasional, padahal mereka sudah dinyatakan diterima di perguruan tinggi terkenal, protes ke Komnas HAM. Mereka bilang, janganlah kemampuan mereka itu dinilai dari hanya hasil ujian nasional tersebut. Lihatlah prestasinya selama tiga tahun di sekolah itu.

Masuk akallah permintaan para siswa itu, bila dibandingkan dengan usaha yang dilakukan pemda untuk mendapat nilai bagus seperti di Palbar tadi. Sebab, yang lulus ujian nasional itu bisa saja mereka yang pintarnya hanya mengerjakan soal, jawabannya sudah dihapal lebih dahulu. Maka tidak heran kalau ada cendekia yang bilang, sekolah kita itu tidak menyelenggarakan pendidikan, tetapi lebih mirip dengan lembaga bimbel.

Menyakitkan memang, tetapi begitulah kenyataannya.

Harapannya, semoga siswa yang protes tadi itu lebih dipahami secara lebih mendalam oleh para penyelenggara pendidikan di negeri ini……

Di musim Piala Dunia seperti sekarang ini, para penggemar bola sudah pasti bersuka-ria menikmati pesta Piala Dunia. Ada hiburan setiap malam, sebulan penuh. Tapi memang tidak semua orang, walaupun sangat hobi bola, dapat menikmati permainan para jawara bola dunia dengan tenang, nyaman, tanpa beban pikiran lain di luar bola. Maklum tayangannya ada yang dinihari. Pekerjaan esok hari akan menjadi hambatan untuk menikmati bola terutama untuk permainan yang ditayangkan dini hari.

Tak heran kalau Dirut BNI beberapa waktu lalu menyatakan di Kompas, bahwa dia tidak leluasa lagi mengikuti piala dunia ini. Dia hanya akan menonton permainan tim unggulannya. Permainan tim lainnya tak sempat diikutinya melalui siaran langsung, karena sebagai bankir, pekerjaannya sangat menyita waktu.

Yang paling menikmati Piala Dunia ini mungkin para napi di LP Kediri. Seperti diberitakan Metro TV, mereka setiap malam sampai dinihari diijinkan nonton bola rame-rame, tentu masih di dalam LP itu. Bayangkan, para napi itu akan bersukaria setiap malam menikmati bola, tanpa ada beban pekerjaan di esok hari!

Renungan SMS Aa Gym hari ini: "Tugas kita adalah LURUSKAN NIAT, MAKSIMALKAN IKHTIAR, dan SEMPURNAKAN TAWAKAL."

Hidup akan menjadi manfaat

bila dijalani dengan semangat ibadah

Menjalaninya dengan penuh syukur

Tidak menyia-nyiakan amanah yang telah tergariskan

Menjalaninya dengan sebaik-baiknya…