June 2006


Rupanya memang susah membasmi kkn di negeri ini. Mental manipulasi, korupsi, cari jalan pintas, sudah mendarah daging.

Coba saja lihat, kenapa sekitar pasar Palmerah beberapa hari lalu kelihatan bersih. Ada pot-pot besar berisi tanaman di sisi jalan Palmerah Barat. Beberapa pedagang yang punya warung di trotoar tampaknya diusir. Memang pemandangan jadi bersih dan lebih nyaman.

Namun hari ini, depan pasar sampai pinggiran jalan Palbar itu kembali seperti semula. Para pedagang menempati kaplingnya lagi.

Selidik punya selidik, beberapa hari lalu itu ternyata sedang ada penilaian kebersihan kota. Nah, jadi bisa ditebak, hasil penilaian bias. Sebab, nilai itu tidak mencerminkan kondisi sebenarnya, tapi hasil “pembersihan sesaat” (baca: manipulasi).

Itulah mental bangsa indonesiah…… Yang bisa direkayasa, direkayasa sajah… Yang bisa ditempuh dengan mudah dan cepat, walaupun pakai cara “bengkok”, lakukan saja. Ngapain yang mudah dijadikan sulit?

Tapi untungnya, masih ada saja yang berpikiran waras. Dan yang menggembirakan, ini dipertotonkan oleh siswa sekolah SMA kita.

Ceritanya, beberapa siswa yang tidak lulus ujian nasional, padahal mereka sudah dinyatakan diterima di perguruan tinggi terkenal, protes ke Komnas HAM. Mereka bilang, janganlah kemampuan mereka itu dinilai dari hanya hasil ujian nasional tersebut. Lihatlah prestasinya selama tiga tahun di sekolah itu.

Masuk akallah permintaan para siswa itu, bila dibandingkan dengan usaha yang dilakukan pemda untuk mendapat nilai bagus seperti di Palbar tadi. Sebab, yang lulus ujian nasional itu bisa saja mereka yang pintarnya hanya mengerjakan soal, jawabannya sudah dihapal lebih dahulu. Maka tidak heran kalau ada cendekia yang bilang, sekolah kita itu tidak menyelenggarakan pendidikan, tetapi lebih mirip dengan lembaga bimbel.

Menyakitkan memang, tetapi begitulah kenyataannya.

Harapannya, semoga siswa yang protes tadi itu lebih dipahami secara lebih mendalam oleh para penyelenggara pendidikan di negeri ini……

Digital divide alias kesenjangan digital banyak dialami negara-negara berkembang. Masalah ini muncul karena sebagian besar penduduk di kota-kota besar di negara ini sudah memanfaatkan teknologi informasi atau teknologi digital. Sementara itu mereka yang tinggal di kota-kota kecil dan pelosok desa, sebagian besar penduduk belum sama sekali tersentuh oleh teknologi ini.

Memang tidak semua orang, minimal saat ini, membutuhkan teknologi informasi untuk pekerjaan dan aktivitas lainnya. Katakanlah seorang petani yang memiliki sepetak tanah di desanya. Jumlah petani seperti ini tentu banyak jumlahnya. Mereka tidak membutuhkan komputer untuk membantu pekerjaannya. Mereka tidak membutuhkan harga pasar gabah kering dari Internet. (Toh walaupun dia tahu harga pasar, dia tidak berdaya untuk berbuat sesuatu.) Mereka tidak perlu tahu juga harga pupuk dari Internet. Harga pupuk naik, keberadaannya langka, dia cukup tahu dari pesawat televisi di depan kantor desa. Memang begitulah nasib petani kita sampai saat ini.

Tetapi di luar itu ada sebagian penduduk yang seharusnya akan lebih produktif, atau pekerjaan yang dilakukannya menjadi lebih efisien bila menggunakan teknologi informasi. Katakanlah mereka yang memiliki usaha rumahan yang mulai berkembang. Minimal untuk pencatatan keuangan mereka dapat menggunakan program komputer, seperti spreadsheet. Kalau dia sudah mulai menjalin relasi dengan pemasok bahan baku atau sudah memiliki pelanggan tetap, mereka membutuhkan cara pembayaran yang praktis, misalnya menggunakan Internet banking.

Apalagi kalau pengusaha ini mulai mencari-cari pasar di luar negeri. Atau bahkan mereka sudah punya satu-dua relasi di luar negeri. Minimal dia membutuhkan e-mail untuk sarana komunikasi.

Dengan memperkecil tingkat kesenjangan digital, diharapkan roda ekonomi akan lebih cepat diputar. Atau setidaknya mereka yang selama ini tidak memanfaatkan IT akan mendapatkan manfaat darinya. Kegiatan usaha yang dijalaninya menjadi semakin berkembang.

Kesenjangan digital telah menarik perhatian anggota APEC. Untuk itulah mereka membentuk organisasi yang disebut dengan ADOC (APEC Digital Opportunity Center). ADOC, menurut APEC, merupakan organisasi nirlaba dan berpusat di Taipei.

ADOC memiliki jaringan kantor di negara anggota. Di Indonesia misalnya ada ADOC Partner Office dan DOC Jakarta serta ada pula telecenter Bandung dan Yogyakarta. Kantor perwakilan dan telecenter tersebut telah diresmikan oleh CEO Adoc dan Ketua Federasi Teknologi Informasi Indonesia pertengahan Juni 2006 lalu. Di DOC dan telecenter tersebut ada tempat pelatihan.

Menurut Teddy Sukardi, ketua FTII, DOC dan telecenter di Indonesia dikelola oleh FTII dan Inixindo (sebuah lembaga pendidikan komputer). Di tempat ini akan diselenggarakan pelatiahn gratis dengan materi e-commerce, e-payment, dsb. Namun selanjutnya kalau sudah berjalan dengan baik program-program kerja tersebut, pelatihan ini tidak gratis lagi.

Pelatihan ini memang ditujukan untuk perusahaan/bisnis kecil. Jadi kalau Anda sekarang mulai menjalankan bisnis, tidak ada salahnya untuk ikut serta sebagai peserta pelatihan kalau memang Anda akan lebih banyak memanfaatkan teknologi informasi.

Di musim Piala Dunia seperti sekarang ini, para penggemar bola sudah pasti bersuka-ria menikmati pesta Piala Dunia. Ada hiburan setiap malam, sebulan penuh. Tapi memang tidak semua orang, walaupun sangat hobi bola, dapat menikmati permainan para jawara bola dunia dengan tenang, nyaman, tanpa beban pikiran lain di luar bola. Maklum tayangannya ada yang dinihari. Pekerjaan esok hari akan menjadi hambatan untuk menikmati bola terutama untuk permainan yang ditayangkan dini hari.

Tak heran kalau Dirut BNI beberapa waktu lalu menyatakan di Kompas, bahwa dia tidak leluasa lagi mengikuti piala dunia ini. Dia hanya akan menonton permainan tim unggulannya. Permainan tim lainnya tak sempat diikutinya melalui siaran langsung, karena sebagai bankir, pekerjaannya sangat menyita waktu.

Yang paling menikmati Piala Dunia ini mungkin para napi di LP Kediri. Seperti diberitakan Metro TV, mereka setiap malam sampai dinihari diijinkan nonton bola rame-rame, tentu masih di dalam LP itu. Bayangkan, para napi itu akan bersukaria setiap malam menikmati bola, tanpa ada beban pekerjaan di esok hari!

Renungan SMS Aa Gym hari ini: "Tugas kita adalah LURUSKAN NIAT, MAKSIMALKAN IKHTIAR, dan SEMPURNAKAN TAWAKAL."

Di Treobits (portal.treobits.com) telah dimuat tip untuk menyalakan Bluetooth Treo 650 dengan satu tombol. Treobits mengambil tip ini dari Palm 24/7 (clieuk.co.uk). Tipnya seperti berikut.

  1. Jalankan aplikasi Phone.
  2. Tekan tombol navigasi arah bawah sehingga muncul Phone Favorite, dan pilih slot kosong.
  3. Tekan tombol MENU – terletak di atas tombol Messaging.
  4. Pilih Edit Favorite, dan lengkapi informasi berikut:

– Type: Application

– Label: Bluetooth

– Quick Key: T (press and hold)

Tap OK

Pada tip aslinya Quick Key di atas disarankan menggunakan B. Tapi ternyata tombol B sudah terpakai oleh operator untuk memilih saluran telepon. Maka Anda dapat memakai tombol T.

Jadi untuk memakainya, tekan tombol Phone (tombol paling kiri atas), lalu tekan tombol T beberapa saat.

Memiliki program aplikasi freeware World Cup v 1.0 sungguh menyenangkan. Ingin tahu siapa yang bertanding malam dan dini hari nanti, tinggal tap menu Next Matches. Mau tahu skor pertandingan, tap menu Download. Hasilnya akan terpampang di jadwal pertandingan. Bahkan ada catatan mengenai para pencetak gol pada tiga pertandingan terakhir.

Program ini jalan di PDA Palm atau smartphone Treo 600/650/700p. Download gratis di Freeware Palm, www.freeware-palm.com.

Hidup akan menjadi manfaat

bila dijalani dengan semangat ibadah

Menjalaninya dengan penuh syukur

Tidak menyia-nyiakan amanah yang telah tergariskan

Menjalaninya dengan sebaik-baiknya…