Digital divide alias kesenjangan digital banyak dialami negara-negara berkembang. Masalah ini muncul karena sebagian besar penduduk di kota-kota besar di negara ini sudah memanfaatkan teknologi informasi atau teknologi digital. Sementara itu mereka yang tinggal di kota-kota kecil dan pelosok desa, sebagian besar penduduk belum sama sekali tersentuh oleh teknologi ini.

Memang tidak semua orang, minimal saat ini, membutuhkan teknologi informasi untuk pekerjaan dan aktivitas lainnya. Katakanlah seorang petani yang memiliki sepetak tanah di desanya. Jumlah petani seperti ini tentu banyak jumlahnya. Mereka tidak membutuhkan komputer untuk membantu pekerjaannya. Mereka tidak membutuhkan harga pasar gabah kering dari Internet. (Toh walaupun dia tahu harga pasar, dia tidak berdaya untuk berbuat sesuatu.) Mereka tidak perlu tahu juga harga pupuk dari Internet. Harga pupuk naik, keberadaannya langka, dia cukup tahu dari pesawat televisi di depan kantor desa. Memang begitulah nasib petani kita sampai saat ini.

Tetapi di luar itu ada sebagian penduduk yang seharusnya akan lebih produktif, atau pekerjaan yang dilakukannya menjadi lebih efisien bila menggunakan teknologi informasi. Katakanlah mereka yang memiliki usaha rumahan yang mulai berkembang. Minimal untuk pencatatan keuangan mereka dapat menggunakan program komputer, seperti spreadsheet. Kalau dia sudah mulai menjalin relasi dengan pemasok bahan baku atau sudah memiliki pelanggan tetap, mereka membutuhkan cara pembayaran yang praktis, misalnya menggunakan Internet banking.

Apalagi kalau pengusaha ini mulai mencari-cari pasar di luar negeri. Atau bahkan mereka sudah punya satu-dua relasi di luar negeri. Minimal dia membutuhkan e-mail untuk sarana komunikasi.

Dengan memperkecil tingkat kesenjangan digital, diharapkan roda ekonomi akan lebih cepat diputar. Atau setidaknya mereka yang selama ini tidak memanfaatkan IT akan mendapatkan manfaat darinya. Kegiatan usaha yang dijalaninya menjadi semakin berkembang.

Kesenjangan digital telah menarik perhatian anggota APEC. Untuk itulah mereka membentuk organisasi yang disebut dengan ADOC (APEC Digital Opportunity Center). ADOC, menurut APEC, merupakan organisasi nirlaba dan berpusat di Taipei.

ADOC memiliki jaringan kantor di negara anggota. Di Indonesia misalnya ada ADOC Partner Office dan DOC Jakarta serta ada pula telecenter Bandung dan Yogyakarta. Kantor perwakilan dan telecenter tersebut telah diresmikan oleh CEO Adoc dan Ketua Federasi Teknologi Informasi Indonesia pertengahan Juni 2006 lalu. Di DOC dan telecenter tersebut ada tempat pelatihan.

Menurut Teddy Sukardi, ketua FTII, DOC dan telecenter di Indonesia dikelola oleh FTII dan Inixindo (sebuah lembaga pendidikan komputer). Di tempat ini akan diselenggarakan pelatiahn gratis dengan materi e-commerce, e-payment, dsb. Namun selanjutnya kalau sudah berjalan dengan baik program-program kerja tersebut, pelatihan ini tidak gratis lagi.

Pelatihan ini memang ditujukan untuk perusahaan/bisnis kecil. Jadi kalau Anda sekarang mulai menjalankan bisnis, tidak ada salahnya untuk ikut serta sebagai peserta pelatihan kalau memang Anda akan lebih banyak memanfaatkan teknologi informasi.

Advertisements