Rupanya memang susah membasmi kkn di negeri ini. Mental manipulasi, korupsi, cari jalan pintas, sudah mendarah daging.

Coba saja lihat, kenapa sekitar pasar Palmerah beberapa hari lalu kelihatan bersih. Ada pot-pot besar berisi tanaman di sisi jalan Palmerah Barat. Beberapa pedagang yang punya warung di trotoar tampaknya diusir. Memang pemandangan jadi bersih dan lebih nyaman.

Namun hari ini, depan pasar sampai pinggiran jalan Palbar itu kembali seperti semula. Para pedagang menempati kaplingnya lagi.

Selidik punya selidik, beberapa hari lalu itu ternyata sedang ada penilaian kebersihan kota. Nah, jadi bisa ditebak, hasil penilaian bias. Sebab, nilai itu tidak mencerminkan kondisi sebenarnya, tapi hasil “pembersihan sesaat” (baca: manipulasi).

Itulah mental bangsa indonesiah…… Yang bisa direkayasa, direkayasa sajah… Yang bisa ditempuh dengan mudah dan cepat, walaupun pakai cara “bengkok”, lakukan saja. Ngapain yang mudah dijadikan sulit?

Tapi untungnya, masih ada saja yang berpikiran waras. Dan yang menggembirakan, ini dipertotonkan oleh siswa sekolah SMA kita.

Ceritanya, beberapa siswa yang tidak lulus ujian nasional, padahal mereka sudah dinyatakan diterima di perguruan tinggi terkenal, protes ke Komnas HAM. Mereka bilang, janganlah kemampuan mereka itu dinilai dari hanya hasil ujian nasional tersebut. Lihatlah prestasinya selama tiga tahun di sekolah itu.

Masuk akallah permintaan para siswa itu, bila dibandingkan dengan usaha yang dilakukan pemda untuk mendapat nilai bagus seperti di Palbar tadi. Sebab, yang lulus ujian nasional itu bisa saja mereka yang pintarnya hanya mengerjakan soal, jawabannya sudah dihapal lebih dahulu. Maka tidak heran kalau ada cendekia yang bilang, sekolah kita itu tidak menyelenggarakan pendidikan, tetapi lebih mirip dengan lembaga bimbel.

Menyakitkan memang, tetapi begitulah kenyataannya.

Harapannya, semoga siswa yang protes tadi itu lebih dipahami secara lebih mendalam oleh para penyelenggara pendidikan di negeri ini……

Advertisements