Hari ini saya mengijinkan permintaan anak saya untuk mengikuti bimbingan belajar (bimbel). Tadinya saya kurang sreg dengan bimbel. Pertama, sudah belajar di sekolah kok masih harus belajar lagi materi yang sama di luar jam sekolah. Kedua, kapan waktu mainnya. Di luar jam sekolah sekarang sudah ikut Sempoa dan kursus Inggris.

Ketiga, bimbel itu yang saya tahu belajar soal-soal, alias belajar jalan pintas. Padahal belajar yang menarik itu yang mengutamakan proses. Bagaimana seorang Newton dapat menghasilkan rumus gerak yang sampai sekarang masih dipakai itu. Pelajaran Fisika misalnya akan menjadi menarik bila disampaikan dengan menceritakan fenomena alamnya, misalnya mengapa benda harus jatuh ke bawah, mengapa kalau kita melempar uang ke atas di atas angkot yang sedang jalan jatuhnya ke tangan lagi, dst. Itu akan jauh lebih menarik mengikutinya ketimbang disodorkan misalnya, ini lho hukum Newton, F=m*a (hafalkan ya anak-anak!).

Saya selalu menekankan pada sulung saya itu bahwa ranking tidak penting. Saya tidak mewajibkan dia mengejar ranking dengan belajar sampai ‘babak-belur’. Saya selalu menekankan, belajarlah dengan senang hati. Yang penting juga ada usaha belajar, nanti hasilnya kita syukuri saja. Saya coba untuk mengajarkan cara menghadapi hidup ini seperti itu.

“Habis teman-teman ikut bimbel. Bagas takut nanti tidak lulus ujian, tidak bisa masuk SMP 1 atau SMP 2,” keluh anak sulung saya itu yang tahun depan masuk SMP.

 Saya jadi kepikiran. Saya mungkin lupa mengajarkan tentang persaingan. Saya takut kalau mengajarkan soal persaingan secara salah, menjadikan anak berpikiran sempit. Falsafah “win-win” yang diajarkan Steven Covey itu sia-sia. Mentalnya jadi kalah-menang. “Saya harus menang, kalau tidak maka akan kalah.”

Akhirnya, hari ini saya turuti dulu untuk ikut bimbel. Nantilah sambil jalan diikuti. Semoga saya dapat membimbingnya terus ke arah yang benar.

Advertisements