September 2007


Setelah beberapa kali menjalankan Linux Ubuntu melalui live CD, barulah saya berani menginstalnya. Kali ini memang belum sepenuh harddisk diinstali Linux, tapi masih berdampingan dengan Windows XP. Selain Windows saya asli dibelikan kantor, keputusan untuk masih mempertahankan Windows ini karena instalasi Ubuntu sifatnya masih coba-coba.

Jadi PC kantor saya sekarang pakai dual boot. Setiap pagi, ketika menyalakan PC, selalu ada pilihan, ke Ubuntu atau Windows. Beberapa hari terakhir ini pagi-pagi ke Ubuntu lebih dahulu.

Sebetulnya motivasi saya menginstal Ubuntu adalah ingin membuktikan kalau Linux itu sudah ‘layak’ pakai di kantor dengan profesi seperti saya, sebagai staf R&D sebuah penerbit di Palmerah, Jakarta. Bila saya berhasil menggunakan Linux dan melepas ketergantungan pada Windows sebulan saja, saya akan tularkan pengalaman ini kepada para pemakai Windows.

Singkat cerita, instalasi Ubuntu berhasil dengan baik. Walaupun pada proses instalasi sempat ada kekhawatiran data-data di Windows hilang karena proses pemartisian. Backup sebelum instal tidak saya laksanakan karena terlalu semangat untuk mencobai Ubuntu dari harddisk. Untungnya tahapan instalasi saya lakukan dengan benar dan tidak ada masalah sedikit pun.

Mengoperasikan Ubuntu di harddisk jauh lebih nyaman dan cepat daripada dari CD. Menjalankan aplikasi besar seperti WordProcessor lancar-lancar saja. Sekarang tidak khawatir untuk mencobai aplikasi-aplikasi yang belum saya kenal. Sebelumnya, ketika masih pakai live CD, menjalankan aplikasi sangat memakan waktu. Menjalankan salah satu aplikasi Open Office saja bermenit-menit baru terbuka. Jangankan menjalankan aplikasi, sekedar klik-klik menu saja sangat lemot. Maklum prosesor PC saya hanya Celeron.

Setelah sekilas mengklik menu-menu Ubuntu, termasuk setting jaringan dan Internet, saya menyadari bahwa memang Linux kini sudah semudah Windows. Kalau sudah familiar dengan Windows, Anda pasti tak akan menemui kesulitan mengoperasikan Ubuntu. Linux memang sudah jauh lebih ‘ramah’ dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Kemungkinan ini yang membuat para pemakai mengusulkan kepada vendor PC untuk menjual juga sistem Linux. (Dell telah memenuhi keinginan konsumennya dengan meluncurkan PC desktop yang sudah dipasangi Linux Ubuntu. Demikian pula HP, baru-baru ini telah menerima masukan dari klub Linux AS agar meluncurkan PC bersistem operasi Linux.)

Hal menarik lainnya yang saya dapati adalah bahwa flash disk 1G saya dibaca dengan baik. Begitu flash disk ditancapkan ke port USB, segera muncul windows yang menyajikan isinya.

Yang mengagumkan juga adalah bahwa ketika pertama kali saya memasukkan disc DVD ke drivenya, Ubuntu langsung, otomatis, menginstal aplikasi player DVD. Saya ‘balik’ ke Windows dan memasukkan DVD yang sama, Windows menawari untuk memainkannya menggunakan Windows Media Player. Tetapi ketika saya klik program ini, DVD tak bisa dimainkan, Windows meminta supaya resolusi dan kedalaman warna layar diturunkan.

Kekaguman semakin menjadi-jadi setelah menyadari bahwa Linux dapat membaca partisi yang ‘disemayami’ oleh Windows. Jadi semua data yang ada di bawah ‘kekuasaan’ Windows dapat dibaca dari Linux, walaupun hanya read only. File doc Microsoft Word dapat dibaca di Open Office Word Processor!

Ternyata memang Linux dapat membaca sistem file FAT32 dan juga NTFS milik Windows. Tentu saja tidak sebaliknya. Jangan harap Anda dapat mengkases partisi Linux dan file-file datanya dari Windows.

Setelah ‘berbulan madu’ dengan Ubuntu yang sempat menimbulkan ‘penyesalan’ mengapa tidak dari dulu instal Linux, mulailah kekurangan-kekurangan saya kenali.

Pertama, saya kesulitan menemukan driver tv tuner USB Hauppauge saya. Sudah capek-capek sign-in ke driver.com hasilnya nihil. Saya tak menemukan driver tv tuner tersebut untuk Linux. Saay coba masuk ke situs Hauppauge di bagian support, juga tak membawa hasil. Model yang saya miliki tidak didukung oleh driver Linux, padahal model Hauppage lainnya menyediakan driver untuk Linux.

Belum jua putus asa, saya kembali ke Google. Betul ternyata Google lebih canggih. Ada seseorang yang membuat driver untuk model tv tuner saya. Sayangnya, karena begitu awamnya saya dengan Linux, saya belum bisa install driver yang masih dalam format source code bahasa C.

Kesulitan ini tak menyurutkan hati untuk ‘hidup’ bersama Ubuntu. Hati memang masih ‘mendua’, buktinya masih ada Windows bercokol di harddisk, dan masih sering pula memakainya. Namun semangat masih menggelora untuk menggunakan Ubuntu walaupun ada kesulitan baru. Yaitu, saya belum menemukan, dan memang belum mencari driver printer Canon teman sebelah yang terkoneksi di dalam jaringan. Instal printer jaringan dari dalam Ubuntu tampaknya semudah di Windows. Driver untuk berbagai merek printer dan model tersedia di dalam Ubuntu, tetapi sayang driver Canon iP1500 yang masih relatif baru itu belum terdaftar di Ubuntu. Di dalam CD driver yang disertakan dengan printer itu juga tidak menyajikan yang versi Linux. Saya belum mencarinya di Internet.

Saya masih berharap, kesulitan itu dapat teratasi. Kalaupun tidak, hal ini tidak menyurutkan semangat saya untuk menggunakan Linux dan berbagi pengalaman dengan para pemakai Windows.

Your hard disk is littered with junk files you don't need, taking up precious hard disk space, and potentially slowing down your PC's performance. There are files of all kinds, such as temporary files that applications should delete when they're no longer needed, and various log files, index files, backup files. You'd be amazed at how much space these junk files take up. The Wise Disk Cleaner looks for it all, then deletes what you tell it to. You can choose to have the files permanently deleted, or else first moved to the Recycle Bin. And you can have the program do the cleanup automatically, or you can do
it manually. You'll be amazed at how much hard disk space this program can gain for you. On my laptop, for example, it found 872 MB of junk. I needed none of it, so automatically got back plenty of hard disk space.   

Version: 2.6  
Price: Free   
Operating Systems: Windows 98, Windows 2000, Windows Me, Windows XP,
Windows Vista  

Go to the download page now:  
http://www.pcworld.com/downloads/file/fid,67282/description.html?tk=nl_ddxdwn

The more software and hardware you install and uninstall, the more full your Registry gets. A great deal of software doesn’t clean up after itself, and leaves behind old and obsolete Registry entries, or upon install creates invalid ones. There will be pointers to missing DLLs, listings of no-longer-valid file extensions, invalid paths, invalid ActiveX Controls, and much more. The more your Registry fills with this junk, the slower your PC gets and the more often you’ll have system crashes. Eusing Free Registry Cleaner helps to fix the problem in a simple, two-step process. Tell it to scan your Registry, and it goes through and identifies common problems and junk.    

— Preston Gralla   

Version: 1.5  
Price: Free   
Operating Systems: Windows 2000, Windows 9.x, Windows Me, Windows XP, Windows Vista  

Go to the download page now:  
http://www.pcworld.com/downloads/file/fid,64953/description.html?tk=nl_ddxdwn