Biasanya saya cuek saja melihat biji-biji berwarna merah berjatuhan di bawah ketiga pohon palm di depan rumah. Padahal sudah sejak lama ketiga pohon yang tingginya sudah melebihi kabel telepon itu menebarkan biji-biji ke tanah.

Beberapa hari lalu saya membuang sampah ke tempatnya dan melewati pohon-pohon itu. Tanpa sengaja melihat biji yang bertunas. Dan ternyata ada dua biji lagi yang sudah menyembulkan daun di dekat ditemukannya tunas tadi. Total ada tiga biji yang bertunas, dua di antaranya malahan sudah setinggi 15 cm, sedang yang satunya baru setinggi 4 cm dan daunnya masih kuncup belum membuka.

Bentuk tunas itu cukup bagus, mirip tunas kelapa lambang pramuka. Bedanya, kalau tunas palm ini hanya sebesar ujung ibu jari. Melihat tunas itu terdorong hati saya untuk memindahkan dan menanamnya. Ternyata akarnya sudah lumayan jauh ke dalam, harus digali dulu agar tunas itu dapat diangkat. Ketiga tunas itu akhirnya saya pindahkan ke pot.

Malam harinya saya terpikir untuk mengumpulkan biji-biji yang masih bertebaran di bawah pohon itu dan menyemainya. Keesokan harinya saya berniat mengumpulkan biji-biji itu. Tapi ternyata di sisi lain yang belum terlihat sebelumnya ada lumayan banyak yang sudah bertunas. Hitung punya hitung ada 10 tunas.

Kesepuluh tunas akhirnya saya tanam di pot kecil. Jumlah pot bekas yang berhasil saya kumpulkan dari belakang rumah pas ada sepuluh juga. Menariknya lagi, sisa tanah kompos yang saya beli beberapa minggu sebelumnya juga pas memenuhi kesepuluh pot itu.

Apakah kebetulan-kebetulan itu pertanda baik? Semoga saja demikian. Ketika saya berniat untuk memindahkan tunas-tunas itu ke dalam pot dalam hati berharap setidaknya tunas-tunas ini kelak akan bermanfaat, setidaknya saya sudah ikutan untuk menanam pohon dalam rangka menyelamatkan bumi. Tapi ya tidak seidealis itu juga, terbesit juga dalam hati, siapa tahu kelak laku dijual! Ha ha.

Advertisements