Sungguh menyenangkan kalau punya notebook dengan umur baterai 40 jam. Kalau kita bekerja dengan notebook itu sehari 8 jam, berarti lima hari kerja baru mengisi (charge) baterai. Sungguh leluasa menenteng notebook ini ke manapun.

Kata sumber yang menggagasnya, paling tidak semester kedua tahun depan, kita bisa memilikinya. Wah pasti harganya muahaal. Pasti orang-orang yang berduit saja yang bisa memiliki notebook itu, paling tidak tahun-tahun awal sebelumnya harganya turun.

Barangkali anggapan Anda seperti di atas salah. Dan Anda juga salah kalau umur baterai itu karena pengembangan teknologi baterai yang baru. Jadi?

Keawetan baterai notebook itu disebabkan oleh pemakaian layar LCD yang konsumsi daya listriknya sangat kecil. Harga layar LCD berteknologi baru itu seperti tiga dari harga layar LCD konvensional yang dipakai sekarang. Dan konsumsi daya listriknya, sepersepuluh dari LCD konvensional.

Layar LCD berteknologi baru itu dikembangkan oleh Mary Lou Jepsen, yang sebelumnya adalah kepala divisi display di Intel, dan CTO (chief technology officer) dari One Laptop Per Child (OLPC). Melalui perusahaan baru yang dipimpinnya, Pixel Qi, Jepsen mengembangkan layar LCD yang bukan saja untuk notebook tetapi rencananya juga untuk peranti e-book reader.

Selain murah dan hemat listrik, LCD baru ini juga dapat dibaca sekalipun di bawah sinar matahari langsung. Kualitasnya, setara dengan HDTV (high definition TV). Nah kurang apalagi?

Advertisements