serba-serbi


Seperti artikel yang disajikan Koran Tempo edisi 27 Desember 2007 pada rubrik Ilmu&Teknologi, obat tetes mata dapat menyebabkan kebutaan. Oleh sebab itu disarankan oleh Profesor Suhardjo (Ketua Persatuan Dokter Mata Indonesia Daerah Istimewa Yogyakarta) agar hati-hati menggunakan obat tetes mata.

Menurut Prof Suhardjo saat ini masih banyak ditemukan kasus kebutaan karena tetes mata. Obat tetes mata yang mengandung steroid memang ampuh untuk atasi alergi dan iritasi mata. Namun penggunaan tetes mata yang mengandung steroid secara berlebihan (misalnya selama dua bulan berturu-turut) dapat menyebabkan glukoma atau peningkatan tekanan dalam bola mata yang mengakibatkan rusaknya saraf penglihatan.

Alergi mata sering terjadi pada anak-anak. Menurut Prof Suhardjo biasanya alergi ini akan hilang dengan sendirinya ketika telah dewasa. Sarannya, janganlah membeli dan menggunakan tetes mata secara berlebihan, apalagi tanpa resep dokter.

Advertisements

Pada suatu hari tetangga Anda sedang menggoreng ikan. Baunya sampai ke bagian belakang rumah Anda, dan tentu saja Anda ikut membaui gorengan ikan itu. Dulu pada jaman Nabi, tetangga Anda wajib memberi Anda ikan gorengnya. Tetapi manalah ada perbuatan terpuji seperti itu pada jaman sekarang ini. Lalu, apa yang Anda perbuat?

Mungkin Anda komplain ke tetangga karena bau itu tidak sekali dua kali saja sampai ke rumah Anda, tetapi hampir setiap hari! Anda merasa mual karena Anda sama sekali tidak suka bau itu.

Bagaimana kalau tetangga Anda menyebarkan bau wangi? Mungkin di dalam hati Anda berkata, “sering-sering deh seperti ini”. Anda kebetulan sangat menyukai aromanya.

Tetapi bagaimana kalau tetangga Anda menyebarkan gelombang elektromagnetik karena tetangga Anda memiliki koneksi Internet wireless? Mungkin saja Anda tidak akan komplain karena memang gelombang itu sama sekali tidak menggannggu. Bahkan dengan menggunakan sebuah laptop, merapat ke dinding yang berdekatan dengan tetangga Anda, Anda dapat ikut serta menikmati layanan akses Internet di dalam rumah Anda. Tentu Anda melakukannya dengan diam-diam.

Selain Tuhan, Anda tak mau orang lain mengetahui. Takutnya, kalau anak sendiri pun tahu, jangan-jangan secara tak sengaja ia bisa cerita dan ketahuan. Selain malu, Anda tak lagi menikmati Internet gratisan!

Kalau di Indonesia, mungkin Anda akan aman-aman saja. Tetapi kalau Anda melakukannya di luar negeri, hati-hati, dan bahkan jangan sekali-kali melakukannya. Pasalnya di London Barat dua hari lalu, Briton ditangkap polisi gara-gara akses Internet melalui koneksi wireless milik orang lain. Polisi menangkapnya pada saat dia asyik bersandar di dinding rumah orang sambil buka laptop. Karena sudah ketangkap basah, Briton mengaku kepada polisi bahwa ia browsing Internet menggunakan koneksi broadband yang lemah sekuritinya di dalam rumah tersebut!

 Setelah install Google Desktop, saya merasa informasi begitu mudah dan cepat diperoleh. File apapun yang ada di PC, termasuk email-email lama, mudah ditemukan.

Pencet Ctrl dua-kali, muncullah kolom pencarian. Ketikkan apa saja pada kolom ini, Google dengan segera menyajikan daftar, entah file atau email yang mengandung kata itu. Kata tersebut tidak harus bagian nama file, tetapi juga isi file atau dokumen yang Anda cari.

Jadinya sekarang tidak perlu lagi mengingat-ingat, di folder mana file berada. Demikian pula kalau Anda perlu cari pesan email maupun attachment-nya. ketik saja apa yang Anda ingat. Segera muncul daftar di popup window, tinggal klik file atau pesan yang dimaksud.

Informasi benar-benar di ujung jari!

Kalau dipikir-pikir, tidak ada lagi gunanya mengorganisasikan file-file ke folder. Kalau sebelum pakai Google Desktop, folder-folder itu kan untuk mempermudah cari file. Sekarang tidak perlu lagi mengingat-ingat letak file. Di mana pun letak file, akan mudah menemukannya.

Setidaknya berkurang satu aktivitas mengingat. Lumayan, karena masih banyak yang perlu kita ingat.

Tetapi di balik itu, kita jadi kurang melatih otak untuk mengingat. Konon katanya, semakin kurang aktivitas otak semakin cepat menuju kepikunan. Hah? Sampai sejauh itukah dampak negatif Google Desktop?

 Setelah membaca buku “Diet Sehat Golongan Darah untuk Mencegah dan Mengobati Alergi” karangan Dr. Peter J. D’Adamo sempet terkaget-kaget. Kopi hanya boleh diminum sekali-sekali, padahal sekarang saya minum 3 sampai 4 cangkir per hari. Kok bisa ya, kopi bisa jadi penyebab alergi!

Biasanya yang jadi penyebab alergi itu kanseafood, obat antibiotik, telur, dsb. Kacang tanah juga masih bisa diterima sebagai penyebabnya. Dulu waktu saya dites alergi, kacang tanah memang jadi salah satu penyebab alergi. 

Sebagai ganti kopi, yang sangat dianjurkan adalah teh hijau.Teh hijau dapat mencegah iritasi selain obat alergi.

Yang mengagetkan juga adalah tempe. Lauk favorit yang hampir tiap hari hadir di meja makan ini, untuk golongan darah B seperti saya, sebaiknya tidak dikonsumsi. Semua produk dari kedelai sebaiknya dihindari, tidak hanya susu kedelai, tapi juga tahu. Berarti saya nggak bisa makan “gorengan” lagi.

Lalu yang lebih mengagetkan, buah kesayangan, alpukat, juga disarankan untuk tidak dimakan. Termasuk juga tomat, yang tidak disangka, tidak baik untuk saya yang alergis dan bergolongan darah B. Kesemek, buah kampung yang “krenyes-krenyes” itu juga harus saya jauhi.

Tapi nggak masalahlah, daging ayam yang memang kurang saya suka itu bisa diganti dengan daging sapi atau bahkan kambing muda. Pisang masih boleh, melon masih ok, dan semangka malah dianjurkan.

Digital divide alias kesenjangan digital banyak dialami negara-negara berkembang. Masalah ini muncul karena sebagian besar penduduk di kota-kota besar di negara ini sudah memanfaatkan teknologi informasi atau teknologi digital. Sementara itu mereka yang tinggal di kota-kota kecil dan pelosok desa, sebagian besar penduduk belum sama sekali tersentuh oleh teknologi ini.

Memang tidak semua orang, minimal saat ini, membutuhkan teknologi informasi untuk pekerjaan dan aktivitas lainnya. Katakanlah seorang petani yang memiliki sepetak tanah di desanya. Jumlah petani seperti ini tentu banyak jumlahnya. Mereka tidak membutuhkan komputer untuk membantu pekerjaannya. Mereka tidak membutuhkan harga pasar gabah kering dari Internet. (Toh walaupun dia tahu harga pasar, dia tidak berdaya untuk berbuat sesuatu.) Mereka tidak perlu tahu juga harga pupuk dari Internet. Harga pupuk naik, keberadaannya langka, dia cukup tahu dari pesawat televisi di depan kantor desa. Memang begitulah nasib petani kita sampai saat ini.

Tetapi di luar itu ada sebagian penduduk yang seharusnya akan lebih produktif, atau pekerjaan yang dilakukannya menjadi lebih efisien bila menggunakan teknologi informasi. Katakanlah mereka yang memiliki usaha rumahan yang mulai berkembang. Minimal untuk pencatatan keuangan mereka dapat menggunakan program komputer, seperti spreadsheet. Kalau dia sudah mulai menjalin relasi dengan pemasok bahan baku atau sudah memiliki pelanggan tetap, mereka membutuhkan cara pembayaran yang praktis, misalnya menggunakan Internet banking.

Apalagi kalau pengusaha ini mulai mencari-cari pasar di luar negeri. Atau bahkan mereka sudah punya satu-dua relasi di luar negeri. Minimal dia membutuhkan e-mail untuk sarana komunikasi.

Dengan memperkecil tingkat kesenjangan digital, diharapkan roda ekonomi akan lebih cepat diputar. Atau setidaknya mereka yang selama ini tidak memanfaatkan IT akan mendapatkan manfaat darinya. Kegiatan usaha yang dijalaninya menjadi semakin berkembang.

Kesenjangan digital telah menarik perhatian anggota APEC. Untuk itulah mereka membentuk organisasi yang disebut dengan ADOC (APEC Digital Opportunity Center). ADOC, menurut APEC, merupakan organisasi nirlaba dan berpusat di Taipei.

ADOC memiliki jaringan kantor di negara anggota. Di Indonesia misalnya ada ADOC Partner Office dan DOC Jakarta serta ada pula telecenter Bandung dan Yogyakarta. Kantor perwakilan dan telecenter tersebut telah diresmikan oleh CEO Adoc dan Ketua Federasi Teknologi Informasi Indonesia pertengahan Juni 2006 lalu. Di DOC dan telecenter tersebut ada tempat pelatihan.

Menurut Teddy Sukardi, ketua FTII, DOC dan telecenter di Indonesia dikelola oleh FTII dan Inixindo (sebuah lembaga pendidikan komputer). Di tempat ini akan diselenggarakan pelatiahn gratis dengan materi e-commerce, e-payment, dsb. Namun selanjutnya kalau sudah berjalan dengan baik program-program kerja tersebut, pelatihan ini tidak gratis lagi.

Pelatihan ini memang ditujukan untuk perusahaan/bisnis kecil. Jadi kalau Anda sekarang mulai menjalankan bisnis, tidak ada salahnya untuk ikut serta sebagai peserta pelatihan kalau memang Anda akan lebih banyak memanfaatkan teknologi informasi.