Smartphone berlayar sentuh dan lebar itu memang menyenangkan. Produk keluaran baru seperti Samsung Galaxy S II dan beberapa model dari HTC dan juga LG, memiliki layar hingga 4,3 inci. Apa saja bisa ditampilkan dengan jelas, baik itu foto, halaman Web, maupun tampilan dokumen seperti spreadsheet. Huruf-huruf dapat diperbesar dan tampilan dapat di-zoom secara mudah dengan hanya sentuhan di layar.

Desain smartphone kategori high-end ini umumnya juga sangat bagus. Fasilitas yang menyertainya juga menggiurkan, seperti kamera resolusi tinggi yang bisa merekam video high-definition. Pokoknya semuanya tampak menarik dan kelihatan begitu sempurna. Tapi benarkah demikian?

Ternyata memang tak ada gading yang tak retak. Begitulah memang dunia. Kesempurnaan hanya milik-Nya.

Kelegaan layar dan kecanggihannya harus ditukar dengan umur baterai yang sangat pendek. Seberapa pendek? Sangat pendek! Kalau smarthphone itu sering dipakai, tak sampai sehari harus charge ulang.

Ini barangkali sangat mengecewakan, terutama bagi mereka yang belum pernah memiliki smartphone layar sentuh.

Awalnya penulis duga borosnya baterai itu disebabkan oleh kombinasi layar lebar dan layar sentuhnya. Tetapi seorang teman yang juga baru memiliki smartphone layar sentuh, dengan ukuran layar yang lebih sempit juga mengeluhkan hal yang sama. Dia bilang OS Android yang jadi biangnya. Alasannya, smartphone lain dengan OS yang sudah lama terkenal, yang juga berlayar sentuh dan lebar, baterainya lebih awet.

Nah lo! Jadi benarkah Android yang bikin boros baterai? Tentu tidak boleh buru-buru menghakiminya. Masih perlu diadakan pengujian dan testimoni dari beberapa pemakai untuk mengungkap masalah ini.

Seorang pramu niaga smartphone di Jakarta Selatan mengatakan, baterai smartphone umumnya memang pendek. “Blackberry juga boros baterai Pak,” ungkapnya. O begitu ya rupanya.

Bagaimana dengan pengalaman Anda? Mungkin Anda telah menggunakan smartphone sejak lama. Anda berpendapat sama bahwa smartphone memang boros baterai?